Mengenai Saya

Foto saya
gw narsis, gw penggila warna kuning, kadang gw bijak-kadang temperamental, gw itu ya gw; whatever you might think about me; i'm just being my self ;)

Selasa, 30 Agustus 2011

Ya Allah

Ya Allah..
Aku memohon ampun kepada-Mu..
Aku pasti mempunyai banyak dosa..
Ampunilah aku..
Lindungilah kami ya Allah..
Aamiin..

Malam 1 Syawal 1432 H.

Rabu, 20 Juli 2011

-----

who cares me?
i don't need the answer.
aku sudah lama tahu kalau manusia mati sendirian, tapi aku baru tahu kalau manusia hidup juga sendirian. *meringis*

Senin, 20 Juni 2011

Pacaran

Pacaran itu belajar
Pacaran itu membina hubungan baik
Bagaimana mengatasi masalah
Menjadi lebih dewasa
Menjadi lebih baik
Seharusnya ini menjadi menyenangkan,inta sayang
Bagaimana memaafkan
Bagaimana dimaafkan
Bagaimana mengalah
Bagaimana disayangi
Bagaimana menyayangi
Dan ini bukan tentang kalah menang
Ini tentang bersama-sama menjadi lebih baik
Mengubah diri menjadi lebih baik



*Puisi ini gw bikin buat diri gw sendiri,waktu gw capek berantem terus sama cowok gw,"merasa kalah" karena gw sempet ngalah,trus gw ngomong pelan2 sama diri gw,dan voila jadilah puisi ini. Intinya sih gw jadi menyadari klo pacaran itu sama aja ky membina hubungan antar manusia..Membina hubungan itu harus baik,kan?Jadi pacaran lah dengan baik,jgn dibikin sesuatu yg memberatkan,ta. :)

Rabu, 08 Juni 2011

I am happy all the time

Di depan rumah ku ada sebuah kolam ikan. Kolam itu terisi oleh seekor ikan mas berwarna oren yang cantik. Sebenarnya seharusnya ada beberapa ekor ikan di kolam itu, namun mati satu persatu sehingga hanya tinggal satu ekor itu.

Ikan mas yang tinggal satu-satunya itu sering sekali bersembunyi di dalam terowongan yang berada di dalam kolam itu. Aku jarang melihatnya hilir mudik di dalam kolam.

Suatu sore, aku melihat ikan itu hampir mati. Pantas, air dalam kolam sudah sangat berkurang. Terlihat ikan itu berenang miring karena ikan itu sudah tidak bisa lagi berenang dengan tegak. Ketinggian air kolam itu lebih pendek daripada tinggi ikan. Memang sudah lama sekali tidak turun hujan. Biasanya aku tidak perlu memikirkan air kolam yang berkurang karena penguapan oleh sinar matahari karena hujan hampir setiap hari turun.

Kemudian aku pun cepat-cepat mengisi kolam dengan air dari selang. Aku meninggalkan selang dalam keadaan mengalirkan air ke kolam.

Ketika aku kira air sudah cukup memenuhi kolam, aku menghampiri kolam. Dan aku melihat ikan mas itu sudah berenang dengan tegak. Ikan mas itu keluar dari gua dan berenang mengelilingi kolam. Aku melihat ikan itu seperti senang karena air dalam kolam bertambah. Dan aku merasa ikan itu keluar dari gua nya untuk berterimakasih pada ku yg telah mengisi tempat tinggal nya dengan air.

Saat memandangi ikan itu berenang dengan riang, aku merenung. Begitu mudahnya ikan itu bahagia. Hanya dengan air, ikan itu bahagia.

Dan aku pun seharusnya begitu. Seharusnya aku tidak mematok ukuran kebahagiaan ku dengan sangat tinggi. Aku pernah sedih karena belum pernah keluar negeri. Aku pernah sedih karena tidak punya smartphone keluaran terbaru. Aku pernah sedih karena tidak sekaya teman ku. Dan sekarang aku tahu, aku salah. Seharusnya aku bahagia dengan apa yang aku punya. Bukannya aku bahagia jika aku punya, melainkan aku bahagia dengan yang aku punya. Seharusnya standar kebahagiaan ku adalah semua yang telah aku punya. Standar kebahagiaan ku bukanlah apa yang belum aku punya. Itu artinya, I’m happy all the time.

Kamis, 05 Mei 2011

Lucu,ya.. Kenapa cuma diri sendiri yg paling mengerti diri sendiri. Kenapa kita tidak pernah tau apa yg ada di pikiran orang lain,bahkan walaupun dia ada di hadapan kita. Kita cuma bisa menebak-nebak,apa kira2 isi pikiran dia. Kita juga gak bisa ngasih tau pikiran kita lewat telepati. Kita cuma bisa bilang dg kata2 verbal. Ada banyak faktor yg akhirnya bikin kita gak 'mampu' mengungkapkan isi pikiran dg gamblang. Yg kemudian diutarakan dg bahasa yg tdk bisa diterjemahkan sesuai harapan. Fuhhh... Gimana cara saling mengerti satu sama lain? Gimana cara supaya semua tingkah laku seseorang sesuai dg keinginan org lain atau paling tidak,gak ganggu keinginan org lain... Susah ya? Dan lucu.. Aneh.. Galau..

Senin, 11 April 2011

The Power of 'Emosi'

GUE

Gue? Kenapa dengan gue?
Hmm.. Baru gw (gue) sadar,tulisan di blog ini kebanyakan tentang gw atau hubungan gw dg seseorang.. Pertanyaan nya adalah..kenapa? Ya,apakah yang gue pikirkan hanya tentang "gue" aja? Gak seperti itu sih. Faktanya adalah,kenapa gw sering menulis cerita tentang gw dan hubungan gw dengan teman gw adalah karena itu sangat menggugah emosi gw. Karena ternyata menulis itu sangat membosankan. Dan bikin capek. Hehe. Dan ketika gw terlalu emosi (entah kesal,senang,bahagia,dan kawan-kawan) gw jadi mendapat kekuatan buat menulis. Dan ternyata lagi,kekuatan paling besar adalah pada saat gw emosi kesal.hehe. So,that's why kebanyakan tulisan gw ttg kekesalan gw..hehe,gpp ya ;-*

Kisah Kebencian dan Kebaikan

Gw lagi benci sama seseorang. Sebut aja namanya Anas. Sengaja gw kasih nama Anas,karena gw mau menyembunyikan jenis kelamin nya juga. Anas kan bisa cewek bisa cowok. Haha.

Hubungan gw gak begitu deket ma Anas. Istilahnya, Anas itu temen nya temen gw. Malah mungkin temen nya temen nya temen gw. Serius nih. Tapi gw lumayan sering ketemu Anas. Karena gw sering ke tempat temen gw dimana ada Anas dan temen nya temen gw itu.
Nah, kenapa gw benci dia? Gw gak bisa bilang secara terang2an. Jadi, gw mau jelasin kira2nya ke lo.

Lo pasti punya hal yg lo benci kan. Atau sesuatu yg jadi kelemahan lo. Atau sesuatu yg lo benci saat org melakukan itu ke lo. Misalnya, ada org yg gak suka sama ular,ih jijik. Atau gw gak suka klo penghapus gw ilank,haha,iya penghapus pensil. Klo lo tanya knp,gw gk tau jawabannya. Atau ada juga yg punya kelemahan sesuatu misalnya ibu,dia gak suka kalo ibu nya dihina (itu kayaknya smua orang ya,hehe). Atau lo gak suka klo dikitikin. Intinya kita smua pasti punya hal yg bisa bikin kita berada di titik emosi tertinggi, ya kan? Coba lo bayangin dulu apa yg bisa bikin emosi lo naek? *** Klo udah lo bayangin, lo pasti tau gimana rasanya ketika Anas melakukan hal itu kepada gw. Kesel. Kesel banget gw. Sampe gw gak mo liat muka Anas. Intinya gw benci bgt ma Anas. Gw tetep membenci Anas walaupun tau klo Anas ternyata gak tau gw benci hal itu. Aduh,gimana ya? Soalnya itu terjadi berkali-kali. Maksud gw, walaupun Anas gak tau klo gw benci hal itu, tapi kenapa sih dia mesti bercanda kayak gitu berkali-kali (dalam satu waktu,ya!)? Itu pembenaran hati gw untuk tetap membenci dia. Yeah.

Dan sekitar 3 minggu setelah kejadian menyebalkan yang dilakukan Anas (dan gw masih benci dia), gw lewat di suatu jalan. Tiba2 gw inget.. Motor gw pernah mogok disitu, trus gw telpon temen gw tapi gak diangkat. Akhirnya gw telpon temen nya temen gw yg lagi sama Anas. Trus Anas nawarin diri buat dateng ke tempat motor gw mogok. Baik banget ya dia? Walaupun akhirnya motor gw bisa jalan dg sendirinya (motor yg aneh,trnyata cm pgn istirahat d bawah pohon :p), cuma gw tau klo lo jg berpikir klo Anas tuh baek ya kan? Inget itu, gw jadi bingung apakah gw harus maafin Anas atau gak. Jujur, susah banget ngelupain kejadian saat Anas melakukan hal yg gw benci terhadap gw. Gw sampe nangis ketika gw udah gak bisa nahan emosi gw lagi. Ada kali gw nangis 2 jam gak berhenti-berhenti. Sumpah, kesel banget. Tapi gw juga inget kejadian Anas mo nolong gw, dan mungkin ada hal2 lain lg kebaikan Anas pada gw. Dan sekarang gw bimbang . . .

Sabtu, 02 April 2011

iamnotwhatyousee

entah knp,ingin menuliskan kata2 seperti yg ada pada judul.

manusia adl sesuatu hal yg sangat kompleks. menghabiskan seumur hidup untuk mengamati seorang manusia pun takkan mampu menjadikan kamu mengerti org itu. contoh mudah, kamu pasti punya byk hal yg km sembunyikan dr orang tua mu kan? So,aku,kamu,atau siapapun yg masih spesies manusia adalah misteri.

Luka Hati Kaki

Luka di kaki saya memang sebentar lagi akan sembuh.

Namun saya tidak yakin luka di hati saya karena Anda mengancam luka kaki saya akan sembuh bersamaan dengan kesembuhan luka kaki saya. Saya butuh waktu mungkin 100 tahun lagi. Karena Anda sangat tidak lucu!

Jumat, 25 Februari 2011

Jika Semuanya Saya Pikirkan

Pusing pastinya!

Saya sedang dalam proses sangat berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak mendesak dalam hidup saya. Sulit sekali! Karena saya termasuk orang yang perasa. Sedikit-sedikit pasti terpikirkan.

Misalnya, suatu ketika saya bela-belain mendatangi pacar karena dia membutuhkan bantuan saya. Pas saya dalam proses menolongnya, dia menjawab telpon penting dari hp nya, kemudian proses yang saya lakukan salah dan dia langsung berkata agak keras sambil tetap menelpon, “eh jangan kayak gitu”. Saya kesal dalam hati karena respon nya seperti itu. Pikir saya, berterimakasih saja belum, yang ada saya malah disalahkan dengan nada kurang ramah.

Kali lain saya dan teman saya janjian untuk makan bareng. Kami bingung mau makan dimana. Berkali-kali dia bertanya, “kita mau makan dimana?”. Dan jika saya memberikan alternatif tempat, dia selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Yeah, great menurut saya.

Atau, ketika teman saya yang lain mengeluh dan saya menanggapi dengan mengkhawatirkannya, dia merespon dengan cibiran atas kekhawatiran saya. Semacam “huwek”, dan lain-lain. Saya sih kesal karena kekhawatiran saya ternyata tidak dihargai.

Bisa juga, ketika saya mengatakan sudah melakukan sesuatu, teman saya yang lain lagi tidak percaya kalau saya sudah melakukannya. Sangat mematahkan semangat.

Atau, pertanyaan kenapa icha tidak jua mengunjungi rumah saya yang terus menghantui. (Bacalah : Kunjungan Gw Versus Kunjungan Icha)

Saya yakin hal-hal tersebut sebenarnya tidak penting untuk saya simpan dalam diri saya. Seharusnya kejadian-kejadian negatif tersebut (atau pikiran saya yang negatif?) langsung dapat saya buang dari pikiran saya. Anda setuju?

Pacar saya sering bilang, saya itu suka menyimpulkan sesuatu ke hal-hal yang mengarah negatif daripada mengarah positif. Kenapa seperti itu ya? Padahal menurut saya memang seperti itu kesimpulan dari suatu kejadian. Maksud saya, saya secara spontan saja menyimpulkan hal seperti itu.

Perumpamaannya, seandainya ada orang yang berkata, “saya masak semur lho”. Saya langsung menyimpulkan kalau dia memasak semur tahu. Memang saya tahu kalau bahan makanan yang bisa di-semur itu tidak hanya tahu. Tapi kemungkinan itu tertutup karena saya terlalu sering makan semur tahu.

Parahnya, saya tidak sadar kalau kebiasaan tersebut bisa mematikan kreatifitas saya dalam mengambil kesimpulan. Lebih parah lagi kalau saya tidak percaya kalau orang lain menyangkal kesimpulan saya. Padahal kan orang tersebut yang membuat pernyataan. Seharusnya, di luar kemungkinan orang tersebut bohong atau salah dalam menggunakan bahasa, bagaimanapun kesimpulan pembuat pernyataan yang pasti benar kan?

Maka dari itu, daripada saya terus-terusan meng-konfirmasi apakah kesimpulan saya benar atau tidak, lebih baik saya lupakan saja kejadian itu. Itu saya lakukan karena untuk berpikir lebih positif dengan ide saya sendiri, saya belum bisa... ;p

Minggu, 13 Februari 2011

Tentang Setan

Tiba-tiba terpikir...
Kasihan sekali kah setan?
Ditakdirkan untuk berakhir di neraka.
Apakah 'dia' bisa menerima itu?
Atau 'dia' pernah berusaha mengubah takdir untuk 'nya'?
Apakah pernah terbesit dalam 'pikiran' 'nya' : "Mengapa 'aku' menjadi setan?" atau "Mengapa pada akhirnya 'aku' harus tinggal di neraka?"

Apa saya boleh berpikir seperti itu atau itu hanya menjadi urusan Nya? Maafkan hamba jika hamba telah lancang Ya Allah.