Mengenai Saya

Foto saya
gw narsis, gw penggila warna kuning, kadang gw bijak-kadang temperamental, gw itu ya gw; whatever you might think about me; i'm just being my self ;)

Jumat, 25 Februari 2011

Jika Semuanya Saya Pikirkan

Pusing pastinya!

Saya sedang dalam proses sangat berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak mendesak dalam hidup saya. Sulit sekali! Karena saya termasuk orang yang perasa. Sedikit-sedikit pasti terpikirkan.

Misalnya, suatu ketika saya bela-belain mendatangi pacar karena dia membutuhkan bantuan saya. Pas saya dalam proses menolongnya, dia menjawab telpon penting dari hp nya, kemudian proses yang saya lakukan salah dan dia langsung berkata agak keras sambil tetap menelpon, “eh jangan kayak gitu”. Saya kesal dalam hati karena respon nya seperti itu. Pikir saya, berterimakasih saja belum, yang ada saya malah disalahkan dengan nada kurang ramah.

Kali lain saya dan teman saya janjian untuk makan bareng. Kami bingung mau makan dimana. Berkali-kali dia bertanya, “kita mau makan dimana?”. Dan jika saya memberikan alternatif tempat, dia selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Yeah, great menurut saya.

Atau, ketika teman saya yang lain mengeluh dan saya menanggapi dengan mengkhawatirkannya, dia merespon dengan cibiran atas kekhawatiran saya. Semacam “huwek”, dan lain-lain. Saya sih kesal karena kekhawatiran saya ternyata tidak dihargai.

Bisa juga, ketika saya mengatakan sudah melakukan sesuatu, teman saya yang lain lagi tidak percaya kalau saya sudah melakukannya. Sangat mematahkan semangat.

Atau, pertanyaan kenapa icha tidak jua mengunjungi rumah saya yang terus menghantui. (Bacalah : Kunjungan Gw Versus Kunjungan Icha)

Saya yakin hal-hal tersebut sebenarnya tidak penting untuk saya simpan dalam diri saya. Seharusnya kejadian-kejadian negatif tersebut (atau pikiran saya yang negatif?) langsung dapat saya buang dari pikiran saya. Anda setuju?

Pacar saya sering bilang, saya itu suka menyimpulkan sesuatu ke hal-hal yang mengarah negatif daripada mengarah positif. Kenapa seperti itu ya? Padahal menurut saya memang seperti itu kesimpulan dari suatu kejadian. Maksud saya, saya secara spontan saja menyimpulkan hal seperti itu.

Perumpamaannya, seandainya ada orang yang berkata, “saya masak semur lho”. Saya langsung menyimpulkan kalau dia memasak semur tahu. Memang saya tahu kalau bahan makanan yang bisa di-semur itu tidak hanya tahu. Tapi kemungkinan itu tertutup karena saya terlalu sering makan semur tahu.

Parahnya, saya tidak sadar kalau kebiasaan tersebut bisa mematikan kreatifitas saya dalam mengambil kesimpulan. Lebih parah lagi kalau saya tidak percaya kalau orang lain menyangkal kesimpulan saya. Padahal kan orang tersebut yang membuat pernyataan. Seharusnya, di luar kemungkinan orang tersebut bohong atau salah dalam menggunakan bahasa, bagaimanapun kesimpulan pembuat pernyataan yang pasti benar kan?

Maka dari itu, daripada saya terus-terusan meng-konfirmasi apakah kesimpulan saya benar atau tidak, lebih baik saya lupakan saja kejadian itu. Itu saya lakukan karena untuk berpikir lebih positif dengan ide saya sendiri, saya belum bisa... ;p

Minggu, 13 Februari 2011

Tentang Setan

Tiba-tiba terpikir...
Kasihan sekali kah setan?
Ditakdirkan untuk berakhir di neraka.
Apakah 'dia' bisa menerima itu?
Atau 'dia' pernah berusaha mengubah takdir untuk 'nya'?
Apakah pernah terbesit dalam 'pikiran' 'nya' : "Mengapa 'aku' menjadi setan?" atau "Mengapa pada akhirnya 'aku' harus tinggal di neraka?"

Apa saya boleh berpikir seperti itu atau itu hanya menjadi urusan Nya? Maafkan hamba jika hamba telah lancang Ya Allah.